Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh . . Jadwal Majelis Ta’lim Nurul Musthofa Lil Al-Habib Ghasim Syami Bin Ja'far Assegaf . . Selasa, 1 Oktober 2013 ( Pkl 20:00 WIB ) . . Bertempat di : Rawa Kuning, Pulo Gebang, Cakung - Jakarta Timur . . Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh . . Jadwal Majelis Ta’lim Nurul Musthofa Lil Al-Habib Hasan Bin Ja'far Assegaf . . Sabtu, 5 Oktober 2013 ( Pkl 20:00 WIB ) . . Bertempat di : Jl. Pilar Mas Raya, Kedoya Selatan, Kebon Jeruk, - Jakarta Selatan . .

Sabtu, 06 April 2013

Kisah Taubatnya Wahsyi, Orang Yang Telah Membunuh & Mengambil Jantung Paman Nabi Saw

“Katakanlah Wahai hamba-hamba Ku, yang telah melampaui batas dalam berbuat dosa jangan berputus asa dari kasih sayang Allah, sungguh Allah Maha Mengampuni semua dosa, dan sungguh Allah Maha pengampun dan berkasih sayang” (QS Azzumar 53)


Diriwayatkan oleh Hujjatul Islam wabarakatul anam Al Imam Qadhi’iyad didalam kitabnya Assyifa, menukilkan riwayat ayat ini adalah: Ketika Sang pembunuh Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib radhiyallahu’anhu (pamannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam), yaitu Wahsyi seorang budak yang memang sengaja membunuh Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthallib radhiyallahu’anhu di dalam perang Uhud, di saat perang Uhud itu Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthallib di tombak dari kejauhan dari belakang tubuhnya hingga wafat dan Wahsyi tidak cukup hanya dengan itu, Wahsyi membelah dada Sayyidina Hamzah, mengeluarkan jantungnya, memotong hidung dan telinga dan bibir dan mencungkil ke dua matanya lantas di bawakan kepada Hindun.

Hadirin Hadirat, inilah dosanya Wahsyi orang yang telah membunuh pamannya Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu mengeluarkan jantungnya dari dadanya, jenazah itu di robek dan di keluarkan jantungnya, dicungkil ke dua mata, bibir, hidung dan kedua telinganya dan di bawakan untuk tuannya.
Lalu di saat itu, disaat Fatah Makkah, Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke Makkah dengan 100 ribu muslimin muslimat, Wahsyi melarikan diri, ia menjauhkan diri sampai kepantai, Istrinya datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Wahai Rasul, suamiku mempunyai dosa yang sangat besar, kalau ia masuk Islam dan bertaubat, apakah suamiku di ampuni?”

Maka Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam berkata
“Allah memaafkan semua yang terdahulu jika orang mau bertaubat, masuk Islam Taubat sudah tidak ada lagi dosa”. Maka Istrinya pun menemui Suaminya di pantai. Berkata Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam
“Allah akan mengampuni semua yang Lalu kalau kau mau bertaubat dan masuk Islam”

Wahsyi berkata pada Istrinya: “kamu tahu bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam tahu kamu istri saya?” maka berkata Istrinya: “tidak ku sampaikan”
“katakan dulu, mustahil aku diampuni”
Maka Istrinya balik lagi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Ya Rasulullah, apakah betul semua dosa akan di ampuni??? suamiku ketakutan”
Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam berkata :
“sudah kusampaikan beberapa waktu yang lalu, Allah memaafkan apa-apa yang terdahulu”

Maka Istrinya berkata: “Ya Rasulullah, suamiku adalah Wahsyi yang telah membunuh pamanmu, merobek dadanya, mengeluarkan jantungnya, mencungkil kedua matanya, dan memotong bibir, hidung dan kedua telinganya”
Berubah wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau terdiam dan tidak menjawab, menunduk, Turunlah ayat :
“Katakan Wahai hamba-hambaku yang telah melampaui batas dalam berbuat dosa, jangan berputus asa dari kasih sayang Allah, Allah mengampuni semua dosa”

Rasul menyampaikannya kepada para Shahabat dan kepada Istrinya dan Istrinya menyampaikan kepada Suaminya datanglah Wahsyi masuk Islam, Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “kau wahsyi yang telah membunuh pamanku? Hamzah bin Abdul Muthallib”
“Betul wahai Rasul, aku telah berbuat ini dan itu”
“kumaafkan kesalahanmu, namun satu hal, jangan perlihatkan wajahmu lagi di hadapanku setelah ini”
“Kenapa wahai Rasulullah, bukankah kau sudah memaafkan aku?”
“Aku sudah memaafkanmu, tapi kalau aku lihat wajahmu aku terbayang wajah Hamzah bin Abdul Muthallib yang rusak di hancurkan olehmu saat itu, aku teringat wajah Hamzah, makanya jangan muncul di hadapanku lagi”

Wahsyi kemudian terus kecewa di dalam hatinya sampai munculnya Musailamah Al Kaddzab musuhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata “nah ini tombak yang kugunakan untuk membunuh Hamzah bin Abdul Muthallib akan kugunakan juga untuk membunuh Musailamah Al Kadzab, barangkali sedikit bisa menebus dari pada kesalahan ku yang lalu”,

Namun kita lihat Sang Maha Lembut Rabbul’alamin berbuat kepada orang yang demikian, Wahsyi, Allah menjawab keputus asaannya dengan kasih sayang Allah yang berkata pada istrinya “mustahil aku di ampuni karena aku sudah berbuat dosa yang sangat besar, membunuh pamannya Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam” namun justru Allah memanggilnya untuk kembali kepada cintanya, “jangan putus asa dari kasih sayang Allah” kenalilah Tuhan mu yang Maha Lembut dan Maha Berkasih sayang, tiada yang lebih lembut dari Nya, tiada yang lebih santun dari Nya, Dialah Allah, yang telah mengutus hamba yang paling di Cintai Nya, Yang mempunyai sifat yang sangat lemah lembut Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, Shahibul Akhlak Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, Shahibul Isro’ Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, Shahibul Mi’raj Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, Pemimpin kita dan idola kita yang berlemah lembut dan tiada manusia yang lebih lembut dari Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Diriwayatkan di dalam Shahih Bukhari, Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam: “Rasul shallallahu ‘alaihi
wasallam, sebaik baiknya manusia, budi pekerti dan tubuhnya” dan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam telah disampaikan oleh Allah subhanahu wata’ala: “Sungguh engkau mempunyai akhlak yang agung”(QS Nun 4)

Dan firman Allah swt pula: “Telah datang kepada kalian utusan dari bangsa kalian, berlemah lembut dan sangat peduli atas musibah yang menimpa kalian dan sangat berlemah lembut kepada hamba-hamba Allah yang beriman dialah Sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam” (QS Attaubah 128)

Sumber : Al-Habib Munzir Bin Fuad Almusawa   

Kamis, 04 April 2013

Jadwal Majlis Ta'lim Nurul Musthofa Minggu Ini


Jadwal Majelis Rasulullah Saw Bulan Ini


Senin, 01 April 2013

MAJELIS AKBAR MINGGUAN - MASJID JAMI' AL MUNAWWAR (20:30 - 22:30)
Jl. Raya Pasar Minggu, Pancoran
JAKARTA SELATAN

Kamis, 04 April 2013

MAJELIS AKBAR MINGGUAN - GEDUNG DALAIL KHOIROT (20:30 - 22:30)
Komplek Hankam, Cidodol, Kebayoran Lama
JAKARTA SELATAN

Jumat, 05 April 2013

TABLIGH & DZIKIR AKBAR JALAALAH - MASJID NUR MUHAMMAD (20:30 - 22:30)
Kmp. Gandaria, Komplek Billymoon, Pd. Kelapa
JAKARTA TIMUR

Sabtu, 06 April 2013

TABLIGH AKBAR & ZIARAH KUBRO - MASJID JAMI' AT TAQWA (20:30 - 22:30)
Jl. Ukir Pedongkelan Depan,Kapuk
JAKARTA BARAT

Minggu, 07 April 2013

TABLIGH AKBAR - MASJID AL MUHAJIRIN (20:30 - 22:30)
Perumahan Grand Cikarang City, Ds. Karang Rahaja
CIKARANG UTARA - BEKASI

Senin, 08 April 2013

MAJELIS AKBAR MINGGUAN - MASJID JAMI' AL MUNAWWAR (20:30 - 22:30)
Jl. Raya Pasar Minggu, Pancoran
JAKARTA SELATAN

Kamis, 11 April 2013

MAJELIS AKBAR MINGGUAN - GEDUNG DALAIL KHOIROT (20:30 - 22:30)
Komplek Hankam, Cidodol, Kebayoran Lama
JAKARTA SELATAN

Jumat, 12 April 2013

TABLIGH & DZIKIR AKBAR JALAALAH - MT. RIYADHUS SIDDIQIN (20:30 - 22:30)
Jl. Asem 3, Kebon Jeruk
JAKARTA BARAT

Sabtu, 13 April 2013

TABLIGH & ZIARAH KUBRO - MT. AR RAUDHOH (20:30 - 22:30)
Jl. Plumpang, Rawa Badak Selatan, Koja
JAKARTA UTARA

Minggu, 14 April 2013

TABLIGH AKBAR - MASJID AL MAGHFUR (20:30 - 22:30)
Jl. Cipinang Muara II, Cipinang
JAKARTA TIMUR

Senin, 15 April 2013

MAJELIS AKBAR MINGGUAN - MASJID JAMI' AL MUNAWWAR (20:30 - 22:30)
Jl. Raya Pasar Minggu, Pancoran
JAKARTA TIMUR

Kamis, 18 April 2013

MAJELIS AKBAR MINGGUAN - GEDUNG DALAIL KHOIROT (20:30 - 22:30)
Komplek Hankam, Cidodol, Kebayoran Lama
JAKARTA SELATAN

Sabtu, 20 April 2013

TABLIGH & ZIARAH KUBRO - KEDIAMAN BPK. HENDRA (20:30 - 22:30)
Bekasi Timur Regency, Bantar Gebang
BEKASI TIMUR

Minggu, 21 April 2013

TABLIGH AKBAR - MASJID AL FURQON (20:30 - 22:30)
Jl. Raya Cibitung Regensi 2, Kmp. Selang ( ps. Induk )
CIBITUNG

Senin, 22 April 2013

MAJELIS AKBAR MINGGUAN - MASJID JAMI' AL MUNAWWAR (20:30 - 22:30)
Jl. Raya Pasar Minggu, Pancoran
JAKARTA SELATAN

Kamis, 25 April 2013

MAJELIS AKBAR MINGGUAN - GEDUNG DALAIL KHOIROT (20:30 - 22:30)
Komplek Hankam, Cidodol, Kebayoran lama
JAKARTA SELATAN

Sabtu, 27 April 2013

TABLIGH & ZIARAH KUBRO - MUSHOLLA AL IKHLAS (20:30 - 22:30)
Jl. Kesadaran 1, Pondok Benda Lama, Pamulang
TANGERANG

Minggu, 28 April 2013

TABLIGH AKBAR - MASJID BAITURRAHMAN HAQ (20:30 - 22:30)
Jl. H. Mukhtar, Petukangan Utara, Pesanggrahan
JAKARTA SELATAN

Senin, 29 April 2013

MAJELIS AKBAR MINGGUAN - MASJID JAMI' AL MUNAWWAR (20:30 - 22:30)
Jl. Raya Pasar Minggu, Pancoran
JAKARTA SELATAN


Info Kontak : SEKERTARIAT MAJELIS RASULULLAH SAW 021-798-6709 MUHAMMAD QALBY ( IRFAN ) 0817-6666-384

Ulama dan Para Wali


Ulama (jama` dari orang alim), Ulama bisa dibilang Ulama bila dia telah memahami 3 hal :
1. Ilmu Syariat
2. Ilmu Thariqat
3. Ilmu Haqeqat

Sesungguhnya ulama telah disebutkan di dalam Al-Qur`an dan Hadits Nabi SAW bahwa Allah SWT akan mengangkat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu.
Nabi SAW bersabda : “Ulama warisannya para nabi” dan Nabi SAW bersabda yang diriwayatkan dari Ibnu Mas`ud : “Wahai Ibnu Mas`ud, duduknya kamu satu jam di majlisnya orang alim, tidak memegang pena atau pulpen dan tidak menulis satu huruf pun maka lebih baik kamu daripada kamu memerdekakan seribu orang budak, dan melihatnya kamu ke wajah orang alim, maka lebih baik kamu dari pada kamu menyedekahkan seribu kuda di jalan Allah SWT dan mencium tangannya orang alim, maka lebih baik kamu dari pada kamu beribadah seribu tahun”.

Berkata Nabi SAW : “Satu orang ahli ilmu seperti ulama yang waro (apik) lebih ditakutkan syaiton dari pada seribu orang ahli ibadah yang bersungguh-sungguh tetapi dia bodoh”.

Berkata Nabi SAW : “Barang siapa yang mencari ilmu kepada seorang ulama maka Allah akan mengampuni dosanya sebelum dia melangkah”.

Berkata Nabi SAW : “Barang siapa yang memandang kepada seorang alim dengan memandang pandangan gembira, maka Allah SWT menjadikan pandangannya dengan Allah menciptakan para Malaikat yang khusus untuk memintakan ampun kepada Allah untuk orang yang memandang ulama”.

Berkata Nabi SAW : “Barang siapa yang memuliakan orang alim, maka dia telah memuliakan aku, dan barang siapa yang telah memuliakan aku, maka dia telah memuliakan Allah, barang siapa yang telah memuliakan Allah maka tempatnya adalah di syurga”.

Berkata Nabi SAW : “Tidurnya orang alim lebih baik dari pada ibadahnya orang jahil atau bodoh”.
Jelas hadits di atas bahwa ulama adalah kekasih Allah SWT dan kekasih Nabi SAW, Ulama-ulama Nabi Muhammad SAW adalah ulama yang mengajak umat mengajarkan kepada kebesaran Allah SWT dan mengikuti sunah-sunah Rasulullah SAW serta menerangkan kepada mereka tentang :
1. Ilmu Wajib
2. Ilmu Sunah
3. Ilmu Makruh
4. Ilmu Mubah
5. Ilmu Subhat

Di dalam ilmu syari`at, thareqat dan haqeqat.
Hakekatnya tugas ulama kepada orang awam adalah mengajarkan bahwa Tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah, agar ketauhidan dan keyakinan mereka tidak berubah dari kemegahan dunia serta isinya.

Apakah Para Wali Itu ?
Aulia atau Wali adalah ulama yang mengamalkan ilmu Allah SWT, ada yang diberi dan ada yang harus dengan belajar.

Aulia atau Wali adalah karunia dari Allah yang tidak bisa dicita-citakan untuk orang tersebut menjadi wali. Para Aulia atau Wali mereka kebanyakan beristiqomah/konsisten/kontinyu di dalam mengamalkan amal ibadah kepada Allah SWT, tetapi Aulia ini dibagi 2 :

1. Aulia atau Wali yang di mulai dengan menuntut ilmu
Aulia atau Wali ini akan lebih dipelihara oleh Allah SWT dengan ilmu yang dimilikinya karena dia memahami karunia yang telah diberikanNya, maka dia akan menjaga dengan sebaik-baiknya, menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya.
Allah SWT berfirman : ”Sesungguhnya para wali-wali Allah tidak merasakan takut dan tidak merasakan sedih”.

Ayat di atas jelas bahwa Allah SWT ridho kepadanya dan dia ridho kepada Allah SWT, baik apa yang Allah berikan kesenangan maupun kesusahan, tidak ada di hati para Wali Allah itu mengeluh karena mereka selalu bersyukur dan hari-harinya bertambah kebaikan sehingga Allah memberikan kelas yang tinggi disisi-Nya dengan beberapa macam kelas, para Wali Allah itu seperti ilmu padi, hati mereka makin terisi dengan cahaya, maka makin tunduk dan patuh kepada aturan-aturan Allah SWT.

Sesungguhnya telah jelas para Wali-wali Allah di dalam sabda Nabi SAW bahwa Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya bila seseorang hamba Allah dicintai oleh-Nya maka Allah akan menjadikan matanya adalah mata-Ku, kupingnya adalah kuping-Ku, mulutnya adalah mulut-Ku dan gerakannya adalah gerakan-Ku dan barang siapa yang mengganggunya maka dia siap berperang dengan-Ku”.
Maka demikian itu Allah memberikan kelebihan kepada mereka berupa kelebihan yang diluar akal manusia yang dinamai dengan “Karomah”.

Karomah
Karomah atau sering disebut dengan Keramat (Kemuliaan), kemuliaan disebabkan karena pengamalan ilmu mereka sehingga menimbulkan efek-efek kebaikan, mereka tidak rela melihat orang-orang fukoro atau masakin kesusahan, mereka selalu menjaga anak-anak yatim dan banyak sekali amal kebaikan yang menimbulkan karomah atau kemuliaan.

Sebagian dari ulama menafsirkan bahwa karomah atau kemuliaan Allah berikan kepada para Wali-wali Allah seperti hal-hal yang tidak diberikan kepada hamba-hamba Allah yang biasa seperti contohnya : ada mereka yang bisa menyembuhkan orang yang buta, ada mereka yang bisa berjalan di air atau di udara atau hal-hal yang diluar kebiasaan manusia, akan tetapi hakekatnya bahwa para wali Allah itu mulia karena mereka memuliakan undang-undang Allah SWT. Diantara mereka banyak sekali dan tidak terhitung jumlahnya dan tidak ada satu orang walipun yang mengakui dirinya wali.

2. Aulia atau Wali yang diberikan dengan karunia Allah tanpa belajar
Ada pula Aulia atau Wali yang diberikan dengan karunia Allah tanpa belajar tetapi banyak dari pada mereka yang tidak bisa menjaganya seperti contohnya Barsesoh yang diberikan kemuliaan semua muridnya bisa terbang, akan tetapi karena tidak memiliki ilmu dia menghalalkan segala cara sehingga dia mati dalam keadaan yang buruk.
Maka kesimpulannya adalah bahwa ilmu itu diatas segala-galanya.

Wallahu`alam

Al-Habib Ali bin Abu Bakar As-Seggaf


Selain dikenali orang sebagai seorang wali beliau juga salah seorang tokoh ulama yang kenamaan. Beliau sering memberitahukan apa yang tersembunyi dalam hati murid-murid beliau.

Salah seorang murid beliau yang bernama Soleh Bahramil berkata: “Pada suatu kali ketika aku sedang sibuk berzikir di tengah majlis beliau, tibatiba di hatiku tergerak sesuatu yang mengganggu zikirku. Beliau menoleh padaku sambil berkata: “Berzikir itu jauh lebih penting dari apa yang tergerak di hatimu”.


Seorang wanita yang bernama Nahyah binti Mubarak Barasyid pernah tergerak dalam hatinya: “Jika hajatku dikabulkan oleh Allah, ia akan membuatkan sehelai selimut dengan tangannya sendiri untuk Sayid Ali bin Abu Bakar As-Seggaf. Setelah Allah mengabulkan ia terlupa dengan niat dalam hatinya. Sayid Abu Bakar As-Seggaf mengutus salah seorang untuk mengingatkan niat yang tersimpan dalam hati wanita itu. Dengan malu wanita itu membuatkannya segera selimut yang akan dihadiahkan pada Sayid Ali.


Seorang murid beliau berkata: “Pernah aku keluar dari kota Tarim untuk menghantarkan seorang temanku yang hendak berpergian. Temanku itu menitipkan padaku seratus Uqiyah. Dalam perjalananku pulang ke Tarim, wang seratus Uqiyah itu terjatuh ke tengah jalan tanpa kuketahui. Aku datang menemui Sayid Ali, kuadukan kejadian itu. Jawab beliau: “Kembalilah kamu di jalanan yang telah kamu melalui sebelumnya”. Waktu aku keluar menyusuri jalanan yang kulalui, kudapatkan wang seratus Uqiyah itu berada di bawah sebuah tembok di pinggir jalanan.


Seorang muridnya pernah berkata: “Pernah sebiji mata anak perempuan saudaraku terkeluar. Aku datang kepada Sayid Ali As-Seggaf dengan membawa anak perempuan yang keluar matanya itu. Beliau pegang mata itu kemudian dikembalikan pada tempatnya semula. Dengan izin Allah mata yang keluar itu sembuh seperti semula. Aku minta pada beliau mendoakan untuk anak wanita itu agar dapat cepat kahwin. Dengan izin Allah wanita itu segera dipinang orang setelah hidup membujang dalam waktu yang lama”.


Salah seorang kawan beliau berkata: “Pernah aku kehilangan perhiasan yang dibuat dari emas. Aku datang menghadap Sayid Ali As-Seggaf minta doa agar perhiasanku yang hilang itu kutemukan kembali. Beliau berdoa. Waktu pagi hari anehnya kudapati perhiasan itu berada di bawah pohon kurma”.


Sayid Ali bin Abu Bakar As-Seggaf wafat pada tahun 895 H. Jenazahnya dimakamkan di perkuburan Zanbal, Hadramaut.


Wallohu a’lam bishshowab

Al-Habib Abdurrohman bin Zein bin Ali Al-Jufri


Sayyidy al-Habib Abdurrohman bin Zein bin Ali bin Ahmad al-Jufri dilahirkan

tahun 1938 di Semarang. Ayahanda beliau seorang ulama’ yang terkenal
dengan ketinggian akhlaqnya, keluasan ilmunya, kesederhanaan hidupnya,
yaitu Sayyidy al-Habib Zein bin Ali bin Ahmad al-Jufri, Ibunda beliau adalah
wanita sholehah Sayyidah Hababah Sidah binti Muhdlor Assegaf.

Ketika usia beliau 8 tahun, beliau diantar oleh ayahanda beliau ke kota Tarim

di Hadromaut (Yaman) untuk belajar pada Sayyidy al-Habib Abdulloh bin
Umar as-Syatiri. Beberapa guru beliau di sana adalah Sayyidy al-Habib Alwiy
bin Abdulloh bin Shihab, Sayyidy al-Habib Ali bin Hafidz bin Syeh Abubakar,
Sayyidy al-Habib Ali bin Toha al-Haddad dll. Di Hadromaut, beliau mendapat
ijazah pembacaan Maulid al-Ahzab secara langsung dari Syekh Muhammad
al-Ahzab.

Setelah 8 tahun di Hadromaut, beliau kembali ke Indonesia, beliau belajar

pada Sayyidy al-Habib Ahmad bin Umar Assegaf (Semarang), Sayyidy al-
Habib Toha bin Umar Assegaf (Semarang), Sayyidy al-Habib Ali bin Ahmad
(Pekalongan), Sayyidy al-Habib Ali bin Ahmad al-’Atthos (Pekalongan),
Sayyidy al-Habib Salim bin Ahmad bin Jindan, Sayyidy al-Habib Ali bin
Abdurrohman as-Syatiri (Jakarta) dll.

Beliau mengatakan jika sedang di Jakarta, beliau tidak lupa mengunjungi salah

satu dua Habib Ali, yaitu Sayyidy al-Habib Ali bin Abdurrohman al-Habsyi
dan Sayyidy al-Habib Ali bin Husein al-’Atthos.

Beliau selalu mengajarkan pada murid-murid beliau untuk menuntut ilmu, untuk

menghadiri majlis-majlis ta’lim, majlis-majlis yang rutin dihadiri beliau adalah
majlis pembacaan Maulid Nabi, peringatan Haul, majlis pembacaan shohih
Bukhori. Dalam satu kesempatan ketika berada di majlis rohah di kediaman
Sayyidy al-Habib Abubakar Assegaf (Gresik), beliau berkata, “Seandainya
keberkahan majlis ini ditebus dengan uang 1 miliar sekalipun maka tetap tidak
akan menggantikan keberkahan majlis tersebut.”

Di Semarang, beliau mengasuh beberapa majlis ta’lim, diantaranya adalah

pengajian ahad pagi di kediaman ayahanda beliau di Jl. Pethek 55 Semarang,
pembacaan Maulid di Mushola Nurul Iman di kampung Pranakan (kampung
beliau), pembacaan manaqib as-Syeh Abdul Qodir al-Jilani tiap malam Jum’at
di kediaman beliau, pengajian kitab Ihya’ Ulumiddin tiap Sabtu pagi.

Salah satu amanat beliau, beliau mengajak untuk hidup sederhana dan beliau

mengajak istiqomah ikut dalam majlis-majlis beliau. Bahkan ketika hujan dan
banjir sekalipun, beliau tetap menghadiri majlis-majlis beliau, meski hanya
diboncengkan sepeda motor. Ketika terjadi banjir besar di Semarang tahun
1991, beliau berjalan dari kediaman beliau menengok keadaan kabar murid
murid beliau. Beliau pun ketika hadir di majlis beliau di Sragen, beliau hadir
berangkat dengan murid-murid beliau naik angkutan umum.

Ada satu hal menarik, ketika beliau menyanggupi untuk mengisi acara tahlil di

sebuah rumah, kebetulan rumah shohibul bayt kebanjiran. Beliau meminta agar
disediakan kursi, “Mari kita mulai di tempat ini, karena banjir tidak boleh
menyebabkan terganggunya hal-hal yang baik.” Tidak ada kebaikan yang
ringan, semua kebaikan itu berat, begitu nasehat beliau.

Nasehat-nasehat beliau adalah menghormati orang tua, beliau pernah berkata

bahwa kunci hidup beliau adalah Ibu ; beliau menganggap murid-murid
kecintaan beliau sebagai anak beliau sendiri ; kita harus senantiasa bersabar
karena sabar tidak ada batasnya ; kita harus senantiasa bermusyawarah dalam
semua hal, kalau ada sesuatu mintalah pendapat pada yang lebih tua ;
datanglah ke majlis-majlis kebaikan, majlis ta’lim, ambil yang baik buang
yang tidak baik. Tapi kalau majlis-majlis itu sudah mengajarkan untuk
bergolong-golongan maka tinggalkanlah majlis-majlis itu karena pasti tidak ada
kebaikan di dalamnya.

Sayyidy al-Habib Abdurrohman bin Zein bin Ali bin Ahmad al-Jufri berpulang

ke rahmatulloh pada tanggal 26 Juli 1997 / 21 Robi’ul Awwal 1417, tepat satu
minggu setelah beliau memandikan Sayyidy al-Habib Syeh bin Abubakar
Assegaf di Solo. Menjelang beliau berpulang ke rahmatulloh, beliau masih
mengisi acara, memberi nasehat ke murid-murid beliau. Nasehat terakhir
beliau adalah agar memperhatikan sholat 5 waktu.

Insya Alloh dengan mengikuti langkah-langkah beliau, maka kita akan sampai

ke langkah-langkah datuk-datuk beliau dan insya Alloh akan sampai ke
langkah-langkah Sayyidina Rosulillah Muhammad Saw.
Subhaanaka-lloohumma wa bihamdika, Asyhadu an-laailaahailla anta,
Astaghfiruka wa atuubu ilaika…

Wallohu a’lam bishshowab

Tawasul


Memang banyak pemahaman saudara-saudara kita muslimin yang perlu diluruskan tentang tawasul, tawassul adalah berdoa kepada Allah dengan perantara amal shalih, orang shalih, malaikat, atau orang-orang mukmin. Tawassul merupakan hal yang sunnah, dan tak pernah ditentang oleh Rasul saw, tak pula oleh Ijma Sahabat radhiyallahuanhum, tak pula oleh Tabiin, dan bahkan para Ulama dan Imam-Imam besar Muhadditsin, mereka berdoa tanpa perantara atau dengan perantara, dan tak ada yang menentangnya, apalagi mengharamkannya, atau bahkan memusyrikkan orang yang mengamalkannya.


Pengingkaran hanya muncul pada abad ke 19-20 ini, dengan munculnya sekte sesat yang memusyrikkan orang-orang yang bertawassul, padahal Tawasul adalah sunnah Rasul saw, sebagaimana hadits shahih dibawah ini : Wahai Allah, Demi orang-orang yang berdoa kepada Mu, demi orang-orang yang bersemangat menuju (keridhoan) Mu, dan Demi langkah-langkahku ini kepada (keridhoan) Mu, maka aku tak keluar dengan niat berbuat jahat, dan tidak pula berniat membuat kerusuhan, tak pula keluarku ini karena Riya atau sumah.. hingga akhir hadits. (HR Imam Ahmad, Imam Ibn Khuzaimah, Imam Abu Naiem, Imam Baihaqy, Imam Thabrani, Imam Ibn Sunni, Imam Ibn Majah dengan sanad Shahih). Hadits ini kemudian hingga kini digunakan oleh seluruh muslimin untuk doa menuju masjid dan doa safar.


Tujuh Imam Muhaddits meriwayatkan hadits ini, bahwa Rasul saw berdoa dengan Tawasul kepada orang-orang yang berdoa kepada Allah, lalu kepada orang-orang yang bersemangat kepada keridhoan Allah, dan barulah bertawassul kepada Amal shalih beliau saw (demi langkah2ku ini kepada keridhoan Mu).


Siapakah Muhaddits?, Muhaddits adalah seorang ahli hadits yang sudah hafal 10.000 (sepuluh ribu) hadits beserta hukum sanad dan hukum matannya, betapa jenius dan briliannya mereka ini dan betapa Luasnya pemahaman mereka tentang hadist Rasul saw, sedangkan satu hadits pendek, bisa menjadi dua halaman bila disertai hukum sanad dan hukum matannya. Lalu hadits diatas diriwayatkan oleh tujuh Muhaddits.., apakah kiranya kita masih memilih pendapat madzhab sesat yang baru muncul di abad ke 20 ini, dengan ucapan orang-orang yang dianggap muhaddits padahal tak satupun dari mereka mencapai kategori Muhaddits , dan kategori ulama atau apalagi Imam Madzhab, mereka bukanlah pencaci, apalagi memusyrikkan orang-orang yang beramal dengan landasan hadits shahih.


Masih banyak hadits lain yang menjadi dalil tawassul adalah sunnah Rasul saw, sebagaimana hadits yang dikeluarkan oleh Abu Nu'aim, Thabrani dan Ibn Hibban dalam shahihnya, bahwa ketika wafatnya Fathimah binti Asad (Bunda dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw, dalam hadits itu disebutkan Rasul saw rebah/bersandar dikuburnya dan berdoa : Allah Yang Menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Hidup tak akan mati, ampunilah dosa Ibuku Fathimah binti Asad, dan bimbinglah hujjah nya (pertanyaan di kubur), dan luaskanlah atasnya kuburnya, Demi Nabi Mu dan Demi para Nabi sebelum Mu, Sungguh Engkau Maha Pengasih dari semua pemilik sifat kasih sayang.", jelas sudah dengan hadits ini pula bahwa Rasul saw bertawassul di kubur, kepada para Nabi yang telah wafat, untuk mendoakan Bibi beliau saw (Istri Abu Thalib).


Demikian pula tawassul Sayyidina Umar bin Khattab ra. Beliau berdoa meminta hujan kepada Allah : Wahai Allah.. kami telah bertawassul dengan Nabi kami (saw) dan Engkau beri kami hujan, maka kini kami bertawassul dengan Paman beliau (saw) yang melihat beliau (saw), maka turunkanlah hujan..?. maka hujanpun turun. (Shahih Bukhari hadits no.963 dan hadits yang sama pada Shahih Bukhari hadits no.3508).

Umar bin Khattab ra melakukannya, para sahabat tak menentangnya, demikian pula para Imam-Imam besar itu tak satupun mengharamkannya, apalagi mengatakan musyrik bagi yang mengamalkannya, hanyalah pendapat sekte sesat ini yang memusyrikkan orang yang bertawassul, padahal Rasul saw sendiri berrtawassul. Apakah mereka memusyrikkan Rasul saw?, dan Sayyidina Umar bin Khattab ra bertawassul, apakah mereka memusyrikkan Umar ?, Naudzubillah dari pemahaman sesat ini.

Mengenai pendapat sebagian dari mereka yang mengatakan bahwa tawassul hanya boleh pada orang yang masih hidup, maka entah darimana pula mereka mengarang persyaratan tawassul itu, dan mereka mengatakan bahwa orang yang sudah mati tak akan dapat memberi manfaat lagi.., pendapat yang jelas-jelas datang dari pemahaman yang sangat dangkal, dan pemikiran yang sangat buta terhadap kesucian tauhid..

Jelas dan tanpa syak bahwa tak ada satu makhlukpun dapat memberi manfaat dan mudharrat terkecuali dengan izin Allah, lalu mereka mengatakan bahwa makhluk hidup bisa memberi manfaat, dan yang mati mustahil?, lalu dimana kesucian tauhid dalam keimanan mereka? Tak ada perbedaan dari yang hidup dan yang mati dalam memberi manfaat kecuali dengan izin Allah.., yang hidup tak akan mampu berbuat terkecuali dengan izin Allah, dan yang mati pun bukan mustahil memberi manfaat bila dikehendaki Allah. karena penafian kekuasaan Allah atas orang yang mati adalah kekufuran yang jelas.

Ketahuilah bahwa tawassul bukanlah meminta kekuatan orang mati atau yang hidup, tetapi berperantara kepada keshalihan seseorang, atau kedekatan derajatnya kepada Allah swt, sesekali bukanlah manfaat dari manusia, tetapi dari Allah, yang telah memilih orang tersebut hingga ia menjadi shalih, hidup atau mati tak membedakan Kudrat ilahi atau membatasi kemampuan Allah, karena ketakwaan mereka dan kedekatan mereka kepada Allah tetap abadi walau mereka telah wafat.


Contoh lebih mudah, anda ingin melamar pekerjaan, atau mengemis, lalu anda mendatangi seorang saudagar kaya, dan kebetulan mendiang tetangga anda yang telah wafat adalah abdi setianya yang selalu dipuji oleh si saudagar, lalu anda saat melamar pekerjaan atau mungkin mengemis pada saudagar itu, anda berkata : "Berilah saya tuan.. (atau) terimalah lamaran saya tuan, saya mohon.. saya adalah tetangga dekat fulan, nah.. bukankah ini mengambil manfaat dari orang yang telah mati?, bagaimana dengan pandangan bodoh yang mengatakan orang mati tak bisa memberi manfaat??, jelas-jelas saudagar akan sangat menghormati atau menerima lamaran pekerjaan anda, atau memberi anda uang lebih, karena anda menyebut nama orang yang ia cintai, walau sudah wafat, tapi kecintaan si saudagar akan terus selama saudagar itu masih hidup?, pun seandainya ia tak memberi, namun harapan untuk dikabulkan akan lebih besar, lalu bagaimana dengan Arrahmaan Arrhiim, Yang Maha Pemurah dan Maha Menyantuni?? dan tetangga anda yang telah wafat tak bangkit dari kubur dan tak tahu menahu tentang lamaran anda pada si saudagar, NAMUN ANDA MENDAPAT MANFAAT BESAR DARI ORANG YANG TELAH WAFAT.


aduh...aduh... entah apa yang membuat pemikiran mereka sempit hingga tak mampu mengambil permisalan mudah seperti ini. Firman Allah : "MEREKA ITU TULI, BISU DAN BUTA DAN TAK MAU KEMBALI PADA KEBENARAN" (QS Albaqarah-18). Wahai Allah beri hidayah pada kaumku, sungguh mereka tak mengetahui.


Wassalam.


Sumber : Al-Habib Munzir Bin Fuad Almusawa